Langsung ke konten utama

Penjelasan dan Analisa Budidaya Sistem Bioflok

 BIOFLOK

    Bioflok merupakan cara budidaya yang sedang tren beberapa tahun belakangan ini oleh para aquaculturist. Sistem budidaya bioflok ini sangat diminati oleh para aquaculturist yang memiliki keterbatasan lahan tapi ingin hasil panen yang optimal. Secara prakteknya bioflok memanfaatkan bakteri bacillus sp. yang digunakan untuk mengikat sisa pakan yang tidak termakan dan juga feses dari ikan, untuk lebih tepatnya senyawa N(Nitrogen). Bakteri bacillus ini mengikat senyawa N dengan sarat harus ada senyawa C(Carbon) juga. inilah kenapa dibeberapa literatur menerangkan rasio C/N.

        Dibeberapa literatur panduan cara budidaya menerangakan tahapan dan bahan-bahan yang dipakai untuk menghasilkan air yang bisa dikatakan bioflok, nah akan saya bahas nih untuk yang masih awam. Bahan yang diperlukan untuk bioflok adalah Molase, Garam krosok, Dolomit, dan tentunya Probiotik dari bacillus sp. sedangkan alat yang dibutuhkan selain kolam bundar, ada juga aerator.

       Molase adalah sumber Carbon(C) yang mana merupakan pemicu bakteri bacillus sp untuk aktif, dalam kata lain makanannya, kalo tidak ada Carbon, jangan harap sumber Nitrogen ini bisa hilang ya, karena balik lagi, ada rasionya C berapa dan N berapa, semakin banyak N/pakan yang diberikan semakin banyak juga sumber carbon yang harus diberikan, kalo ngga ya siap2 kolam anda bau dan biota didalamnya mabok.

      Garam krosok itu digunakan untuk membunuh bakteri dan senyawa yang dapat menimbulkan penyakit. mungkin kalian masih bingung ya? gini deh kenapa air perlu dimasak? biar mateng terus? ya untuk membunuh bakteri dan senyawa yang dapat menimbulkan penyakit, nah selain dengan dimasak(pendekatan Suhu Ekstrim) bisa juga dengan membunuh bakteri dengan penambahan garam, selain itu garam krosok juga dipercaya dapat mempertahankan pH agar stabil. pH apa sih? nanti kita bahas ya.

        Dolomit adalah senyawa kapur yang memiliki fungsi mempertahan pH, hubungannya apa sama ikan/udang? nah FYI ikan /udang bisa hidup pada kisaran pH tertentu berbeda2 tiap jenis ikan/udang tapi umumnya dapat tumbuh stabil di kisaran pH 6.5-8.5(kalo kalian ga yakin cari tau literatur sendiri ya). Jadi pada prosesnya penambahan C, N dan bakteri ini akan menyebabkan pH air turun, dulu mimin pernah ujicoba soalnya pHnya sampe ke 5, ikan udah pada mabok tuh wkwkwk. so guys saran aja harus cek secara periodik pH air ya

        Probiotik, nah ini primadonanya, bakteri dari bacillus sp ini berdasarkan beberapa hasil penelitian dapat mengikat sumber N dengan penambahan sumber C dan juga oksigen(ini alasan kita butuh aerator guys). selama proses tersebut bioflok ini membentuk gumpalan dan bisa kita lihat secara kasat mata ya, so nanti kalo kalian mau ujicoba dan ga tau ini udah jadi belum ya? bisa ko nanti dilihat.

        

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Budidaya Sistem Bioflok

Pengertian biofloc BioFloc asal kata Bios = kehidupan dan Floc = gumpalan .  BioFloc diartikan sebagai  gumpalan ( sekumpulan ) dari beberapa mikroorganisme yang menyatu karena adanya ikatan yang disebut biopolimer .  BioFloc terdiri dari bakteri , algae, yeast, protozoa dan beberapa hewan renik lainnya seperti cacing dll .  Sebagai substrat penempelannya adalah bahan organik . Bakteri pembentuk floc akan menempel pada bahan organik , mengambil mineral dari air dan mengambil karbon dari substrat . Bakteri lain akan menumpang / menempel pada floc tsb dan juga algae dan zooplankton.  Sehingga gumpalan yang terbentuk dapat berfungsi sebagai bioreaktor (filter) memperbaiki kualitas air, dan sekaligus berfungsi sebagai sumber makanan . Latar belakang penerapan teknologi BIOFLOC •Upaya membudidayakan ikan/udang tanpa pergantian air dan padat tebar tinggi. •Upaya meng...

Indeks Hepatosomatik Ikan Tawes (Puntius javanicus) yang Dipuasakan

I.                    PENDAHULUAN 1.1.  Latar Belakang Ikan Tawes ( Puntius javanicus ) merupakan salah satu jenis ikan yang dibudidaya secara intensif  dengan mengandalkan pakan sebagai sumber pemacu pertumbuhan. Sekitar 40–60% biaya produksi di alokasikan untuk  pakan.  Pemberian pakan dalam jumlah berlebihan dapat meningkatkan biaya produksi dan pemborosan . S isa pakan   yang berlebihan  juga  akan berakibat pada penurunan kualitas air sehingga berpengaruh pada pertumbuhan (Wyban  &  Sweeny, 1991).   Hal ini mendorong  dilakukannya berbagai upaya untuk mengurangi biaya produksi pada pakan tetapi tidak mengurangi performa pertumbuhan ikan . Pemuasaan merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk  mengurangi biaya produksi. Pemuasaan   dapat memberikan dua keuntungan yaitu penurunan konsumsi pakan dan a...